December 28, 2009

SEJARAH GLOBALISASI

Posted in Uncategorized at 2:22 pm by uuse

Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke- 20 yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi  telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang.

Berkas Contoh : Mcdonalds

Fenomena berkembangnya perusahaan McDonlad di seluruh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi.

Fase selanjutnnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia da Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamannya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai social dan budaya Arab ke waga dunia.

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinnya revolusi industry yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa di dunia. Berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti internet dan computer. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.

Semakin berkembangnya industru dab kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia misalnnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabanngya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleumdari Inggris adalah beberapa contohnya perusahaan multinasional seperti tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunis di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan member pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komperatif yang dicetuskan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwasuatu Negara dan Negara lain saling bergantung dan dapat saling menguntungkan satu sama lainnya, dan salah satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua Negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinnya. Misalnya, Jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk kamera digital (mampu mencetak lebih efisien dan bermutu tinggi) sementara Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada produk kainnya. Dengan teori ini, Jepang dianjurkan untuk menghentikan produksi kainnya dan mengalihkan factor-faktr produksinnya untuk memaksimalkan produksi kamera digital, lalu menutupi kekurangan penawaran kain dengan membelinnya dari Indonesia, begitu juga sebalikknya.

Salah satu penghambat uta am terjadinnya kerjasama diatas adalah adanyaa larangan-larangan dan kebijakan proteksi dari pemerintah suatu Negara. DI satu sisi, kebijakan ini dapat melindungi produk dalam negeri, namun di sisi lain, hal ini akan meningkatkkan biaya produksi barang impor sehingga sulit sulit menembus pasar Negara yang dituju. Para pro-globalisasi tidak setuju akan adnnya proteksi dan larangan tersebut, mereka menginginkan dilakukannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan,akibatnya permintaan akan meningkat. Karena permintaan meningkat, kemakmuran akan meningkat dan begitu seterusnya.

Bebrapa kelompok pro-globalisasi juga mengkritik Bank Dunia dan IMF, mereka berpendapat bahwa kedua badan tersebut hanya mengontrol dan mengalirkan dana kepada suatu Negara, bukan kepada suatu koperasi atau perusahaan. Sebagai hasilnya, banyak pinjaman yang mereka berikan jatuh ke tangan para dictator yang kemudian menyelewengkan dan tidak menggunakan dana tersebut sebagaimana mestinnya, meninggalkan rakyatnya dalam lilitan hutang Negara, dan sebagai akibatnya, tingkat kemakmuran akan menurun. Karena tingkat kemakmuran menurun, akibatnya masyarakat Negara itu terpaksa mengurangi tingkat konsumsi; termasuk konsumsi barang impor, sehingga laju globalisasi akan terhambat dan – menurut mereka – mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: